The Quote of The Day 060616

Diambil dari Line Friend @TeladanRasulullah
Tinggalkan Gaji 30 Juta dan Fasilitas Mewah demi Shalat Jamaah

Advertisements

 

Pria Ini Tinggalkan Gaji 30 Juta dan Fasilitas Mewah demi Shalat Jamaah

Pekerjaannya sudah mapan; accounting di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta. Gajinya juga sangat menggiurkan; 30 juta per bulan. Belum lagi sejumlah fasilitas mewah yang ia terima.

Namun, semua itu tidak membuat Mifta bahagia. Ia gelisah. Sebab di perusahaan itu, ia tidak bisa shalat jamaah.

Mifta pun memilih resign. Ia tinggalkan pekerjaan mapan itu dan beralih menjadi sales motor. “Asal bisa shalat jamaah,” kata Mifta.

Tiga bulan sudah Mifta tak lagi menjadi orang kantoran. Ia kini lebih sering di luar. Kulitnya yang semula putih bersih, kini mulai kecoklatan diterpa sinar matahari dan debu jalanan. Ia yang biasanya berdasi kini ke mana-mana pakai jaket kulit. Sebab dulu ia menggunakan mobil dinas dan sekarang hanya motor kendaraannya. Dan yang benar-benar ia rasa menjadi ujian, tiga bulan ini belum berhasil menjual satu motor pun.

Hujan belum juga reda. Seperti mengerti gerimis hati Mifta sore itu. Maka di masjid tersebut, ia berlama-lama. Tak langsung pulang setelah shalat jamaah, sambil menunggu hujan reda. Meski agak galau karena kondisi finansialnya, ada seberkas damai bisa shalat berjamaah dan bermunajat padaNya. Apalagi di tengah hujan seperti ini, saat Allah mengabulkan doa-doa hambaNya.

Tak jauh dari Mifta, sepasang mata memperhatikannya. Pria paruh baya itu juga tak langsung pulang setelah sholat berjamaah.

“Kerja di mana, Mas?” kata pria itu setelah berucap salam.

“Saya nyales Pak. Dulu pernah kerja di perusahaan Jepang,” Mifta menceritakan identitasnya secara singkat.

“Di bagian apa dulu waktu di perusahaan?”

“Akuntan, Pak”

“Wah, jadi bisa mengerjakan laporan pajak juga?”

“Alhamdulillah, itu dulu pekerjaan saya Pak”

“Kebetulan kalau begitu. Saya sedang pusing karena pajak saya sedang dipermasalahkan. Bisa tidak Mas membantu merapikan laporan pajak saya?”

“Insya Allah, Pak”

Hari-hari berikutnya, kurang lebih satu pekan Mifta membantu menyelesaikan laporan pajak pria itu. Dan setelah laporan selesai, pria itu sangat puas karena pajaknya tak lagi dipermasalahkan. Ia yang tadinya terancam denda hingga miliaran rupiah, kini tak lagi bermasalah. Sebagai imbalannya, ia memberikan fee 100 juta kepada Mifta.

Menerima fee sebanyak itu, Mifta tersungkur sujud syukur. Ia tak pernah menyangka.

“Ya Allah… aku meninggalkan pekerjaan itu demi shalat jamaah. Aku sempat mengeluh dan hampir berburuk sangka kepadaMu, ternyata Engkau mengumpulkan gajiku selama tiga bulan dan memberikannya kepadaku sekarang,” air mata kesyukuran pun jatuh ke bumi. [Muchlisin BK/Kisahikmah.com]

*Diadaptasi dari kisah nyata teman Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri

The Quote of The Day 310516

Diambil dari Line Friend @TeladanRasulullah
SYAHID AGAR BISA MEMINTA ROTI

 

SYAHID AGAR BISA MEMINTA ROTI

Inilah ucapan anak anak suriah “aku ingin mati syahid supaya nanti di surga aku bisa minta roti” 

Yaaa Allaaah… Nikmat Allaah yang mana lagi yang kita dustakan.

Makanan hampir selalu tersedia, hampir gak pernah kita kelaparan sehari tanpa makan.

Namun makan sudah menjadi rutinitas kita yang jarang kita syukuri

Bahkan gak sedikit yang suka komen buruk tentang makanan, padahal Nabi jika tak menyukai suatu makanan, beliau hanya diam tanpa mengejeknya.

Semoga Allaah mengampuni kita, semoga Allaah karuniakan kemenangan kepada saudara saudara kita di suriah dari orang orang kafir.

Semoga Allaah karuniakan kepada mereka kematian syahid, sehingga di surga mereka bukan hanya akan minta roti, namun mereka bisa meminta seluruh makanan yang belum pernah mereka rasakan. Mereka bisa minum air sungai madu dan susu begitu juga kita

Aamiin Aamiin Aamiin, Yaa Robbal ‘alamiin.